breaking

World View

World View

Menarik

Menarik

Khas Nusantara

Khas Nusantara

Bakti Alam Farm Nongkojajar
Add caption


Bakti Alam Farm bertempat di Desa Ngembal Kecamatan Tutur Pasuruan, adalah merupakan salah satu tempat wisata yang berbasis pada wisata buah. Wisata yang berada di daerah pegunungan pada ketinggian 450 sampai 550 mdpl ini adalah wisata yang banyak digemari keluarga, karyawan kantor, anak anak dan lain lain. Setelah lama bekerja biasanya wisatawan senang sekali melepas penat dan berkunjung ke wisata bhakti alam pasuruan ini. Wisata bhakti alam pasuruan lokasinya tidak jauh dari kota Probolinggo.

Bakti Alam Farm Nongkojajar1
Add caption

Hanya dengan tiket seharga Rp30.000,00 anda bisa menikmati indahnya alam pasuruan di Wisata bhakti alam Pasuruan. Setelah masuk dan naik kereta, kita bisa menikmati susu sapi perah dan segelas juice buah asli dan gratis Cuma Cuma. Banyak sekali pemandangan indah yang bisa kita nikmati di Wisata bhakti alam Pasuruan ini diantaranya kebun buah yang sangat indah.. banyak sekali buah yang bisa anda cicipi di wisata bhakti alam Pasuruan.

Bakti Alam Farm Nongkojajar2
Add caption
Dengan menempati lahan seluas 50 Ha dan terdiri dari 40 jenis buah dan masing-masing buah terdiri dari kurang lebih 15 buah antara lain :

  • Buah Durian ( Montong, Bajul, Kancil, lokal ), 
  • Klenkeng pingpong, 
  • Mangga, 
  • Buah naga, 
  • golden melon, 
  • Semangka,
  • jeruk 
  • dan lain-lain, 

Juga di lengkapi dengan peternakan sapi perah sekaligus pengepakannya, ada juga guest House / cottage serta area bermain anak-anak serta camping ground menjadi Bakti Alam Farm sebagai pusat wisata buah.

Sebagai pusat pembelajaran bagi para pengunjung untuk bisa belajar mengenali jenis-jenis buah yang ada karena tidak saja tersedia buah lokal buah luar negeri.

Lokasi dari Nongkojajar hanya berjarak sekitar 13 Km dan dapat di tempuh dalam 15 menit saja, atau dari arah Purwosari bisa belok menuju Desa Puntir terus ke Desa Ngembal akan menjadi lebih dekat lagi apalagi di tunjang dengan jalan yang cukup bagus menjadikan perjalanan terasa nyaman.

Masjid Tiban
Add caption

Masjid Tiban berada dalam komplek Pondok Pesantren Biharu Bahri'asali Fadlaailir Rahmah di kawasan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dinamakan 'Tiban' karena konon, masjid ini 'tiba-tiba ada'.

Tahun 2008, masjid ini sempat heboh di kalangan warga dan wisatawan. Usut punya usut, Masjid Tiban dibuat oleh tentara jin hanya dalam 1 malam. Tapi rupanya hal itu tidak terbukti, para santri dan jamaah-lah yang membuat masjid ini sedikit demi sedikit.

Masjid Tiban mulai dibangun tahun 1991, dan sampai sekarang belum bisa dikatakan rampung. Tak tanggung-tanggung, masjid ini punya 9 lantai lengkap dengan toko suvenir, toko makanan ringan, dan area satwa.

Meski gaya arsitekturnya nyentrik seperti bangunan Timur Tengah, tak ada arsitek yang merancang Masjid Tiban. Adalah sang pemilik pondok pesantren, KH Achmad Bahru Mafdloludin Sholeh yang mendapatkan petunjuk membangun masjid ini lewat salat istikharah.

Dilansir dari situs 'Wisata di Malang', Kamis (11/7/2013), pesantren itu sendiri sudah ada sejak tahun 1963. Masjid Tiban dibangun sedikit demi sedikit, dan mengusung konsep ramah lingkungan. Bahkan, ada salah satu bagian masjid yang sengaja dibuat menghindari pohon kelapa. Hal itu dilakukan agar pohon kelapa tidak ditebang.

Wisatawan bisa memasuki Masjid Tiban secara gratis, tanpa tiket masuk apa pun. Anda bisa menjelajah 9 lantai masjid ini menggunakan lift maupun tangga. Anda juga bisa melihat aneka satwa seperti kera, burung cendrawasih, kakatua, rusa, dan satwa lain di area khusus. Yang paling utama, menikmati arsitektur dan ornamen nyentrik bangunan ini. Kaligrafi terpahat di banyak tempat!

Masjid Tiban1
Add caption
Meski santer kabar kalau Masjid Tiban dibangun tentara jin, nyatanya masjid ini asli dibuat oleh para santri. Tapi, tak sedikit wisatawan yang penasaran dan akhirnya datang sendiri ke masjid ini. Apakah Anda salah satunya?


Jembatan akar satu objek wisata bentukan alam yang unik terdapat di Kabupaten Pessel, Sumbar. Pada objek wisata ini, pengunjung bisa melihat jalinan akar-akar pepohonan yang berseberangan pada satu ruas sungai. Keunikannya jalinan akar pepohonan itu terlihat kokoh dan bisa digunakan untuk menyeberangi sungai tersebut. Jembatan tersebut satu objek wisata yang unik dan salah satu keajaiban dunia, karena terbentuk dari jalinan akar-akar pohon beringin yang membentang di atas aliran Sungai Batang Bayang.

Lokasi

Kampung Pulut-Pulut, Kecamatan Bayang Utara, Pessel.

Berjarak sekitar 65 kilometer arah selatan kota Padang.

Dari arah utara Kota Painan sekitar 24 kilometer.


Fasilitas wisata

Pengunjung bisa menikmati pesona dan suasana alam yang indah serta bermain di jernihnya air sungai.

Sarana parkir yang cukup respresentatif


Sarana Transportasi

Pengunjung bisa mengunjungi objek wisata itu menggunakan angkutan umum dan pribadi


Sarana Penginapan

Terdapat sejumlah wisma dan penginapan di pusat Kota Painan.


sumber
Perkampungan di kanan-kiri Kanal Suzhou di bagian timur China ini. Kanal ini merupakan anak Sungai Yangtze.

Kota air ini didirikan pada abad ke-5 SM, yang dihiasi taman dan jembatan-jembatan batu. Kanal ini dijuluki ‘Venesia dari China’ dan dahulu merupakan jalur perdagangan sutra karena mendekati Grand Canal, jalur sungai perdagangan terbesar di dunia.


On December 11, 1997, the world agreed that climate change needed to be tackled. The grandly named United Nations Framework on Climate Change adopted the Kyoto Protocol on that day, and it was eventually ratified by 191 countries. Now it's about to expire with a whimper.

Of the major industrial powers, only the European Union is prepared to continue adhering to the Kyoto pact's provisions on cutting greenhouse gases into 2013. Canada, Russia and Japan have already said they won't. The United States never ratified the agreement. So attention is turning to devising a "Kyoto 2.0."

CNN Special: Five cities fighting for climate survival

This week, nearly 200 delegations have gathered in Qatar to plan for a new international climate pact that would come into effect in 2020. But there are huge disagreements between developed and developing countries over sharing the burden.

The Kyoto agreement envisaged binding cuts in emissions by the industrialized world -- but not by rapidly industrializing countries like China and India. They are now the largest and third-largest generator of carbon emissions, respectively, and developing countries account for more than half the world's emissions, according to the International Energy Agency.

Read more: How wasted food is destroying the environment